"Dan apabila kamu sekalian menghitung nikmat Allah Subhanahu wa ta’ala, maka tidaklah bisa menghitungnya.(QS. Ibrahim : 34 )"
Rejeki itu sebenarnya selalu ada. Hanya bentuknya terkadang tidak selalu sesuai dengan apa yang kita harapkan.
Seperti
manusia pada umumnya, baru ingat tuhan dan berdosanya mereka ketika
tertimpa masalah dan musibah. Begitu pula dengan saya.
Kembali kemasalah rejeki. Seperti yang saya tulis diatas. Rejeki itu selalu ada.
Rejeki saya saat ini adalah masih di beri hidup yang bebas. Masih bisa bernafas dan tertawa. Makan enak. Tidur nyenyak.
Dan banyak sekali rejeki "kecil" namun sangat berarti bagi hidup saya.
Rejeki saya saat ini adalah masih di beri hidup yang bebas. Masih bisa bernafas dan tertawa. Makan enak. Tidur nyenyak.
Dan banyak sekali rejeki "kecil" namun sangat berarti bagi hidup saya.
Rejeki besar saya adalah bisa banyak belajar tentang hidup,
pertemanan, agama, serta ke takwaan. Saya yakin, bila masalah ini tidak
terjadi, saya tidak mungkin bisa belajar itu semua.
Lalu, dikarenakan saya kehilangan pekerjaan dan tidak bisa
kembali ke profesi yang sebelumnya. Saya mulai mencari pekerjaan baru.
Saya yang biasanya sombong dikarenakan sudah senior dan memiliki jabatan yang tinggi di profesi sebelumnya. Mulai harus menundukkan kepala, menurunkan level dan menjadi pemula kembali. Lagi lagi, ini adalah pelajaran hidup yang berharga.
Rejeki besar selanjutnya adalah peluang.
Saya harus memulai sesuatu yang baru. Peluang usaha yang mungkin bisa menghasilkan penghasilan.
Dan karna Allah lah, peluang itu selalu datang.
Meskipun belum berhasil saat ini (* mungkin saya belum kuat usahanya,doanya,ikhtiarnya dan tawakalnya) saya yakin suatu saat pasti akan dilancarkan. Namun yang membuat saya selalu bersyukur adalah semua peluang itu datang dengan nominal yang fantastis. Betapa beruntungnya saya bila saat itu tiba. Ketika Allah memudahkan semuanya.
Saya harus memulai sesuatu yang baru. Peluang usaha yang mungkin bisa menghasilkan penghasilan.
Dan karna Allah lah, peluang itu selalu datang.
Meskipun belum berhasil saat ini (* mungkin saya belum kuat usahanya,doanya,ikhtiarnya dan tawakalnya) saya yakin suatu saat pasti akan dilancarkan. Namun yang membuat saya selalu bersyukur adalah semua peluang itu datang dengan nominal yang fantastis. Betapa beruntungnya saya bila saat itu tiba. Ketika Allah memudahkan semuanya.
Kenapa sesuatu yang belum di dapat saya sudah anggap
rejeki? Karna itulah yang saya anggap bersyukur dari jiwa. Ketika rasa
syukur telah tumbuh. Hal sepele pun sudah menjadi rejeki. Khayalanpun
saya anggap rejeki.
Peluang peluang tersebut membuat saya punya "passion"
kembali. Membuat saya semangat untuk mengejar mimpi. Makin memperkuat
ibadah. Dan saya semakin harus terus belajar dan belajar. Bukankah itu
sebuah rejeki ?
Seorang sahabat pernah berkata, "semakin sulit masalah yang dihadapi, maka semakin dekat solusi yang akan diterima"
Kalimat inilah yang menguatkan saya setiap hari. Saya
semakin senang ketika masalah semakin menyakiti hati. Karna sebentar
lagi, saya akan di angkat kembali. Alhamdulillah.
Jadi, rejeki itu tidak hanya di lihat oleh mata namun juga
hati. Ketika hati telah melihat rejeki maka syukur itu akan terus
tumbuh. Dan ketika syukur itu sudah mendarah daging. Mata kita pun akan
mulai melihat rejeki yang seutuhnya.
Seperti yang berulang ulang ditulis pada Surat Ar rahman sebanyak 31 kali.
Fa-biayyi alaa'i Rabbi kuma tukadzdzi ban
"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar