Minggu, 28 Desember 2014

Perubahan.

“Allah memberikan hidayah kepada siapa yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.” (QS. Al-Baqarah: 213)
Blog ini merupakan perjalanan saya dalam pembelajaran menjadi seorang muslim seutuhnya.

Pada tulisan awal di blog ini, saya mencoba merubah doa saya untuk tidak hanya memohon bantuan untuk masalah yang dihadapi namun juga memohon menjadikan saya seseorang yang Allah cintai.

Alhamdulillah, hari demi hari telah menjadikan saya pribadi yang lebih baik. Gak bermaksud memuji sendiri. Tapi saya benar benar merasakan perubahannya.

Menjadi rajin sholat dan lebih khusyu.
Dulu, sholat saya bukan blentang blentong lagi. Tapi tidak pernah saya lakukan. Disaat saya tertimpa musibah pun saya masih saja gak rajin. Masih suka entar entaran kalau denger adzan. Apalagi kalau di tv lagi ada film bagus. Masih suka matiin alarm , padahal niatnya mau sholat malam dan subuh. Melewatkan dhuha yang hakekatnya pembuka pintu rejeki.

Dulu, ketika sholat pikiran saya masih kemana mana. Mikirin masalah, mikirin mantan pacar bahkan mikirin hewan peliharaan udah makan apa belum. Hehe..

Dulu, males banget sholat sunah rawatib. Fardlu nya aja jarang. Apalagi sunahnya. Saya masih suka membenarkan diri dengan berkata "5 waktu nya dulu aja yang dibenerin, sunahnya nyusul"

Sekarang, Alhamdulillah sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Masih perlu banyak belajar. Tapi lumayan lah untuk seorang saya yang hina ini.

Ketika saya sedang berhalangan, saya ingin sekali cepat cepat selesai. Karna saya gak sabar untuk sujud lagi padaNya. Wah. Dulu mana pernah kepikiran seperti ini.

Al Qur'an adalah bacaan sehari hari.
Saya pernah khatam Al Qur'an, tapi waktu SD. Itupun sepertinya gak afdol karna saya masih suka curang dengan ngelompatin bacaan supaya mengejar teman teman saya.
Saat ini, saya menganggur dan lebih sering dirumah. Hal hal yang saya lakukan saat senggang (yang banyak itu) adalah mengaji dan membaca artinya.

Dulu, baca 1 lembar aja rasanya berat banget, tenggorokan terasa kering, mulut cape, punggung sakit, pantat panas. Sekarang Alhamdulillah, saya bisa menyelesaikan 1 juz dalam satu hari. Malah kalau lagi dalam keadaan galau gak karuan, saya bisa "gak sadar" tiba tiba membaca 1 juz langsung.

Jika di perhatikan di setiap tulisan saya, selalu disisipkan ayat ayat Al Qur'an. Karna saya baru menyadari, Al Qur'an itu begitu indah. Subhanallah. Sebuah ensiklopedia terdasyat di alam semesta. Semua jawaban dari segala masalah di muka bumi ada di dalamnya. Kenapa saya bisa melewatkan ilmu yang begitu tingginya selama ini.

Sholat dan membaca Al Qur'an memang tidak langsung menyelesaikan masalah. Namun merupakan penenang jiwa.
“Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus” (QS. Al-Isra:9)
Ketenangan jiwa.
Beberapa bulan kemarin saya sempat tidak ingin hidup. Saya kecewa setiap saya membuka mata. Bangun pagi dalam keadaan mandi keringat karna ketakutan yang teramat besar.

Saat ini Alhamdulillah saya bangun dalam keadaan syukur. Berterima kasih masih di beri kesempatan hidup untuk berusaha dan mengejar peluang. Masih di beri kesempatan belajar tentang memaafkan, sabar dan ikhlas terhadap sesuatu.

Saya gak lagi grasak grusuk dan sibuk memikirkan sebab. Kalimat "Kenapa Ya Allah" sudah tidak pernah terucap. Karna saya sudah tau jawabannya. "Karena Allah ingin saya belajar".

Sedikit lebih pintar.
Waktu yang (banyak) senggang ini juga membuat saya tidak lepas dari smartphone. Dulu, saya disebut miss ring ring, karna selalu megang telpon. Ada aja bahan obrolan baik yang penting maupun basa basi.

Kali ini saya mungkin harus di anugrahi sebagai miss googling. Karna setiap waktu saya terus mencari informasi apapun tentang Islam. Saya sadar bahwa pengetahuan saya tentang agama sangatlah minim. Jangankan soal berapa surat yang saya hafal. Doa keluar rumah saja saya tidak tau.
Belakangan ini saya banyak belajar tentang hukum hukum islam. Ya dimulai yang berhubungan dengan masalah saya. Hutang piutang, lalu tentang tawakal, ikhtiar, kemudian lanjut tentang hukum wakaf, zakat, qurban, dst. Banyak sekali ilmu yang saya harus pelajari dan fahami. Saya jadi tau mana yang sebenarnya sunah atau tidak dianjurkan untuk aplikasi sehari hari.

Sebenarnya begitu banyak perubahan pada diri saya. Saya bersyukur diberi waktu untuk memperbaiki diri. Karna ketika saatnya tiba. Ketika terompet sangkakala ditiup. Saat udah ketok palu. Kesempatan itu akan sirna.
“Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka), dan kalau demikian, pasti Kami berikan kepada mereka pahala yang besar dari sisi Kami, dan pasti Kami tunjuki mereka kepada jalan yang lurus.” (An-nisa: 66-68).

Pundi Kesabaran

Saya mengalami tahun yang sangat berat namun penuh makna dan pelajaran di 2014.

Namun saya bersyukur dengan apa yang telah terjadi. Allah membukakan mata bersama siapa saya sebenarnya hidup selama ini. Dan di lingkungan seperti apa yang saya jalani.

Saya dulu begitu membanggakan teman teman saya, lingkungan saya, profesi saya, masa lalu saya, namun semua itu lah yang menyebabkan kehancuran diri saya secara mental dan spiritual.

Ada masanya ketika saya begitu membenci mereka, hati yang begitu geram. Otak yang slalu berpikir untuk membalas. Namun. Seperti postingan yang sebelumnya. Saya memutuskan untuk memaafkan mereka.
Sabar merupakan hal kedua setelah memaafkan. Sabar dari hati dan pikiran.

Saya hanya bisa berdoa. Supaya mereka menghentikan perbuatan buruk mereka. Bukan hanya untuk saya namun untuk mereka sendiri. Jangan sampai mereka tenggelam dalam dosa yang mereka gak sadar telah perbuat.

Saya berusaha untuk tidak memasukkan kedalam hati. Hati saya hanya untuk hal hal positif. Hati saya hanya untuk rasa bahagia. Maka ketika moment negatif datang. Saya perbanyak istigfar dan duduk membaca Al Quran.

Hati saya terus mengulang, sabar.. Sabar.. Sabar.
"Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik" (QS. Al Muzzamil :10)
"Maka bersabarlah kamu terhadap apa yang mereka katakan dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam (nya) " (QS. Qaaf : 39)
Saya percaya, dan saya yakin bahwa kesabaran saya akan dibalas dengan sesuatu yang jauh lebih indah nantinya. Dan balasan Allah akan jauh lebih hebat dibandingkan apa yang saya bayangkan.
Seperti pundi tabungan, ketika saatnya kita berhak mengambil apa yang telah kita tabung selama ini, rasanya pasti sungguh menyenangkan.
“Sungguh akan dibayar upah (pahala) orang-orang yang sabar dengan tiada batas hitungan.” (Q.S. Az-Zumar 10)
Kemudian kesabaran saya juga di uji dalam menunggu bantuanNya. Terkadang kita sebagai manusia ingin sekali mendapatkan bantuan secara instan. Jujur saya pun masih suka mengharap seperti itu. Namun, kembali lagi bahwa saya harus bisa melewati ujian ini.
Mungkin saja ujiannya bukan soal berbagai kesusahan duniawi. Namun apakah saya bisa sabar dan bersyukur dalam menjalani semua.
" Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) salat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk" (QS. Al Baqaroh : 45 )

"Jika Dia menghendaki Dia akan menenangkan angin, maka jadilah kapal-kapal itu terhenti di permukaan laut. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan) -Nya bagi setiap orang yang banyak bersabar dan banyak bersyukur" (QS. Asy syuura : 33)
Dalam Al Quran begitu banyat surat yang berhubungan dengan kesabaran. Mungkin ujian terberat manusia adalah sabar. Dan saya termasuk orang yang beruntung mendapatkan kesempatan mengalaminya.
Mengingat dosa saya yang begitu besar dimasa lalu dan melihat janji Allah kepada orang orang yang bersabar, rasanya tidak salah jika saya mengucap syukur Alhamdulillah.

Sabtu, 27 Desember 2014

Rejeki Selalu Ada.

"Dan apabila kamu sekalian menghitung nikmat Allah Subhanahu wa ta’ala, maka tidaklah bisa menghitungnya.(QS. Ibrahim : 34 )"
Rejeki itu sebenarnya selalu ada. Hanya bentuknya terkadang tidak selalu sesuai dengan apa yang kita harapkan.

Seperti manusia pada umumnya, baru ingat tuhan dan berdosanya mereka ketika tertimpa masalah dan musibah. Begitu pula dengan saya.

Kembali kemasalah rejeki. Seperti yang saya tulis diatas. Rejeki itu selalu ada.
Rejeki saya saat ini adalah masih di beri hidup yang bebas. Masih bisa bernafas dan tertawa. Makan enak. Tidur nyenyak.
Dan banyak sekali rejeki "kecil" namun sangat berarti bagi hidup saya.

Rejeki besar saya adalah bisa banyak belajar tentang hidup, pertemanan, agama, serta ke takwaan. Saya yakin, bila masalah ini tidak terjadi, saya tidak mungkin bisa belajar itu semua.
Lalu, dikarenakan saya kehilangan pekerjaan dan tidak bisa kembali ke profesi yang sebelumnya. Saya mulai mencari pekerjaan baru.

Saya yang biasanya sombong dikarenakan sudah senior dan memiliki jabatan yang tinggi di profesi sebelumnya. Mulai harus menundukkan kepala, menurunkan level dan menjadi pemula kembali. Lagi lagi, ini adalah pelajaran hidup yang berharga.

Rejeki besar selanjutnya adalah peluang.
Saya harus memulai sesuatu yang baru. Peluang usaha yang mungkin bisa menghasilkan penghasilan.
Dan karna Allah lah, peluang itu selalu datang.
Meskipun belum berhasil saat ini (* mungkin saya belum kuat usahanya,doanya,ikhtiarnya dan tawakalnya) saya yakin suatu saat pasti akan dilancarkan. Namun yang membuat saya selalu bersyukur adalah semua peluang itu datang dengan nominal yang fantastis. Betapa beruntungnya saya bila saat itu tiba. Ketika Allah memudahkan semuanya.

Kenapa sesuatu yang belum di dapat saya sudah anggap rejeki? Karna itulah yang saya anggap bersyukur dari jiwa. Ketika rasa syukur telah tumbuh. Hal sepele pun sudah menjadi rejeki. Khayalanpun saya anggap rejeki.

Peluang peluang tersebut membuat saya punya "passion" kembali. Membuat saya semangat untuk mengejar mimpi. Makin memperkuat ibadah. Dan saya semakin harus terus belajar dan belajar. Bukankah itu sebuah rejeki ?

Seorang sahabat pernah berkata, "semakin sulit masalah yang dihadapi, maka semakin dekat solusi yang akan diterima"

Kalimat inilah yang menguatkan saya setiap hari. Saya semakin senang ketika masalah semakin menyakiti hati. Karna sebentar lagi, saya akan di angkat kembali. Alhamdulillah.

Jadi, rejeki itu tidak hanya di lihat oleh mata namun juga hati. Ketika hati telah melihat rejeki maka syukur itu akan terus tumbuh. Dan ketika syukur itu sudah mendarah daging. Mata kita pun akan mulai melihat rejeki yang seutuhnya.

Seperti yang berulang ulang ditulis pada Surat Ar rahman sebanyak 31 kali.
Fa-biayyi alaa'i Rabbi kuma tukadzdzi ban
"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"

Jumat, 26 Desember 2014

Maaf

Maaf.
4 huruf.
Sedikit namun penuh makna.

Di dalam kehidupan ini ada kalanya memaafkan adalah satu satunya cara demi ketenangan hidup.

Saya memaafkan dengan sepenuh hati dan jiwa kepada semua orang yang telah menyakiti saya dan keluarga.

Mungkin di masa lalu saya memiliki berjuta juta dosa sehingga "dicolek" Allah dengan masalah ini. Masalah serta ujian dan juga cobaan yang mengajarkan saya menjadi pribadi yang lebih baik.
Kehidupan saya mungkin mundur. Jatuh dan terpuruk. Tapi saya yakin kemunduran ini seperti pegas yang akan melontarkan saya jauh kedepan.

(Orang-orang yang bertakwa adalah) mereka yang menafkahkan (hartanya) baik di waktu lapang maupun sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya serta (mudah) memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (QS. Ali-Imran:134)

Ketika masalah ini terjadi, yang saya kejar adalah ke ridho an Allah semata. PerlindunganNya. BerkahNya. Dan RahmatNya. Saya berusaha menjadi umat yang akan di cintaiNya. Maka daripada itu saya berusaha menghilangkan perasaan duniawi ini. Perasaan sakit. Dan seluruh rasa negatif yang hanya akan membuat saya di kelilingi oleh nafsu. Nafsu untuk membenci, marah serta kecewa.

Saya pun memilih memaafkan.

Memaafkan mereka dan segala perbuatannya.
Memaafkan diri sendiri untuk segala kesalahan yang di ciptakan.

Sabtu, 20 Desember 2014

Melepaskan.


Melepaskan apa yang bukan menjadi hak kita bukanlah hal yang mudah. Apalagi hal tersebut merupakan yang kita "butuhkan".

Cinta, pekerjaan , barang atau apapun bentuknya, terkadang tidak dapat kita miliki. Entah sekuat apa perjuangan kita untuk mempertahankannya.

Saya bukan orang yang hebat dalam melepaskan sesuatu. Saya terkadang suka ngotot. Walaupun ada bukti nyata hal tersebut tidak baik dipertahankan. Namun rasa kepemilikan yang tinggi, ego, serta ketidak ikhlas an saya membuat semua terasa berat.

Ketika sesuatu hal tidak seperti yang di harapkan. Rasanya seperti neraka. Hati terasa tertusuk2. Pikiran menjadi negatif. Aura buruk memancar. Mulut yang gak bisa berenti memaki. Emosi yang tidak stabil. Otak dan hati yang menjadi tidak singkron. Betul betul menyiksa.

Ketika ketidak ikhlasan dan ketidak mampuan untuk melepaskan sesuatu menjadi duri didalam daging. Percayalah. Hidup tidak pernah terasa indah. Perasaan gak terima, dendam dan marah menyelimuti hari hari.

Kalimat sabar, semua ada hikmahnya menjadi tidak dapat di terima logika. Bagaimana saya bisa sabar ? Saya sudah mati matian berusaha dan tiba tiba harus di lepaskan begitu saja ? Enak aja. Bagaimana dengan pengorbanan saya selama ini ?

Bukankah kita pernah merasakan hal seperti itu ?

Namun, dengan ketidak terimaan tadi, apakah ada perubahan ? Apakah segalanya menjadi seperti yang kita harapkan ? Tidak.

Ikhlas berarti melepaskan sesuatu dan melupakannya. Kita benar benar harus belajar untuk pemahaman ini.

Saat ini yang mungkin bisa saya bagi adalah. Mari sama sama belajar. Mari sama sama menutup mata dan berusaha berpikir dengan kepala dingin. Pikiran jernih. Serta hati yang bersih.

Saya mulai memahami bahwa sayang sekali jika hidup yang sangat singkat dan berharga ini hanya di isi dengan perasaan yang buruk. Ingatlah bahwa kita sendiri lah yang menyebabkan perasaan itu muncul.

Dan ingat subjek yang membuat kita menjadi negatif seperti ini tidak merasakan hal yang sama. Jadi, hanya kita lah yang menderita sendiri.

Saya gak terima di putusin ?
Saya gak terima di pecat ?
Saya gak terima di..

See ? Semua di mulai dengan kata "saya" .

Jadi, ketika segala sesuatu tidak berjalan semestinya. Pikirkanlah satu hal. Proses. Hidup ini adalah proses dalam pembelajaran. Baik dan buruknya.
“Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak. ( Al-Baqarah 216 )”

Jumat, 19 Desember 2014

Bersyukur dari jiwa

Saya kembali menulis sebuah blog setelah sekian lama berhenti karna kehidupan duniawi yang begitu menyesakkan hati.

Sebelumnya, bagi saya, tahun ini bukanlah tahun yang baik bagi saya. Begitu cobaan, teguran atau mungkin hukuman Allah datang bertubi tubi.

Berbulan bulan saya mengeluh dan meratapi hidup kenapa begini dan mengapa begitu. Mengapa Allah begitu tega pada saya. Mengapa Allah gak menjawab doa saya. Dan seterusnya. Semua terkesan menyalahkan. Penuh prasangka buruk. Keputusasaan dan rasa kecewa yang menyelimuti.

Namun, tadi malam ketika saya selesai menjalankan sholat Isya, saya merasa.. Dosa saya yang begitu besar sehingga semua ini terjadi. Bagaimana doa saya dikabulkan jika saya sendiri belum memahami apa yang sebenarnya ingin di ajarkan pada saya.

Kemudian saya duduk bersila, mematikan lampu dan menutup mata. Masih dalam memakai mungkena saya mencoba menenangkan diri, merenung dan berpikir dengan hati.

Ketika Allah belum mengabulkan doa saya, bukan karna Ia tidak mendengar, namun Ia menunggu saya berubah menjadi lebih baik.
Siapa yang jamin saya tidak kembali lagi melakukan dosa ketika semua masalah saya terlewati.
Saya masih suka lupa akan Allah ketika lagi senang.

Gak kerasa air mata pun mengalir, kali in bukan tangisan minta bantuan yang biasanya terjadi ketika saya sholat, namun air mata penuh rasa malu. Ya Allah.. Saya begitu berdosa.

Bisa bisanya saya "memaksa" Allah mengabulkan doa saya, menolong saya, sedangkan saya masih tidak tau diri.
Di umur saya yang tidak muda ini. Saya gak pernah bersyukur. Iya. Bersyukur yang sebenarnya. Syukur dari hati. Syukur yang mengalir diseluruh nadi.

Siapapun yang membaca tulisan ini pasti pernah dan sering mengucap Alhamdulillah  namun seringkah kita benar benar mengucap hingga keseluruh jiwa dan raga?

Dibalik semua kesusahan saya, selama bertahun tahun ini yang kemudian mengalami pucaknya di tahun ini, saya tidak pernah sekalipun melihat sisi positif dan bersyukur karenanya.

Saya lupa, saya masih di kasih kesempatan untuk hidup. Nafas yang begitu lancar. Badan yang sehat. Otak yang masih bekerja dengan baik.

Saya tidak melihat, betapa besar rahmat karunia yang di berikan pada saya ketika masalah ini terjadi.
Saya bisa mendekatkan diri pada Allah SWT.
Jadi mengapa saya bisa berkata kalau tahun ini bukan tahun yang baik ? Malah sebaliknya. Ini adalah tahun terbaik selama saya hidup. Saya bisa mengaji, saya sholat. Dan saya mendapatkan hidayah semalam.

“…Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan nasib suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…” (QS Ar Ra'd : 11 )

Masalah yang terjadi sekarang adalah murni karna kesalahan saya. Saya yang menciptakan neraka dunia. Jika tidak dibersihkan akarnya. Masalah itu gak akan pernah ada habisnya. Akan ada terus dengan berbagai situasi dan kondisi.

Maka, saya pun merubah niat hidup saya. Merubah doa saya. Tidak hanya terfokus pada mohon bantuan terhadap masalah yang saya hadapi.

Saya berdoa, semoga dijadikan umat yang bersih dari dosa, dijauhkan dari godaan duniawi, dimasukkan kedalam golongan yang di beri rahmat dan hidayah. Diberikan jalan yang benar, jalan yang lurus. Jalan yang Allah berikan kepada orang orang yang Ia ridhoi, cintai.
Dengan begitu, semua masalah akan menjadi kecil. Karna ketika Allah sudah dekat, semua akan berjalan lebih baik. Dan itulah kunci kebahagiaan yang utama.

Saya sadar, tidak ada yang instan di dunia ini. Semua butuh proses. Begitu pula dengan masalah saya. Namun saya percaya, apapun yang terjadi sekarang dan nantinya adalah jalan yang terbaik. Mungkin saat ini saya belum mengerti tapi sejalan dengan waktu, semua akan terbuka dengan cara yang indah.

Kemudian selanjutnya saya harus banyak belajar tentang sabar dan tawakal. Sabar menunggu saatnya tiba. Dan tawakal menjalani segalanya. Memang tidak senggampang pengucapannya, tapi saya kan mengejar cinta Allah, setidaknya dalan proses pembelajaran ini jiwa saya mungkin akan jauh lebih tenang.

“ Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang sabar ” (QS Ali Imran :146)
Ps. Saya sengaja menulis ini tidak hanya untuk berbagi, tapi juga untuk mengingatkan saya betapa indahnya hidup saya. Alhamdulillah Ya Allah..